Paku


Disebuah desa terdapat salah satu rumah yang cukup sederhana dirumah itu hanya ada ayah dan anak lelakinya. Kehidupan mereka agak berubah setelah meninggalnya sang isteri. Perubahan tampak cukup besar pada sifat anaknya yang sering melamun sendiri tapi yang paling membuat sang ayah prihatin adalah sifatnya yang begitu cepat marah dan berkata-kata kasar. Hal itu membuat hati sang ayah begitu terpukul tetapi sang ayah berusaha merubah sikap anaknya agar kembali seperti dulu kala. Hingga kemarahan ayahnya memuncak pada saat peristiwa disuatu pagi, pada saat itu anaknya  sedang melamun didepan rumah, dan pada saat itu ada seornag nenek yang bertanya kepada anaknya tentang sebuah alamat rumah.

Sang nenek bukannya mendapat jawaban dari anak itu tetapi yang didapat nenek adalah cacian dan kata-kata kasar. Sehingga menjadikan sang nenek begitu kelihatan sedih mendengar jawaban dari anak itu. Ayahnya yang melihat kejadian itu langsung menggelengkan kepala dan segera berusaha mencari cara untuk menyadarkan anaknya juga sekaligus hukuman atas apa yang telah ia perbuat. Maka pada keesokan harinya sang ayah memberikan sekantong paku dan menyuruh anaknya untuk mempaku pagar kayu yang ada didepan rumah dan semua pagar harus dipaku tidak boleh ada yang terlewatkan kata sang ayah. Pada awalnya anak itu tidak mau menuruti permintaan ayahnya tetapi karna terus didesak sang ayah akhirnya sang anak melakukannya walaupun dengan rasa terpaksa.

Hari pertama anak itu bekerja memaku pagar kayu yg ada didepan rumahnya pada hari itu dia mendapatkan ¼ pagar pada hari berikutnya mendapat ½ dan hari berikutnya mendapat ¾ dan hingga hari keempat semunya sudah selesai. Setelah selesai dia melaporkan pekerjaan nya kepada sang ayah bahwa pekerjaannya sudah selesai tetapi apa jawaban ayhanya. Ayahnya menyuruh mengambil lagi paku yang tertancap dipagar dan menyuruh agar pagar itu dikembalkan semula seperti sebelum di paku. Sekali lagi anak itu kesal dengan sikap ayahnya tetapi dia tetap mengerjakan perintah ayah nya seharian penuh ia mencabut paku dan menambal lubang paku yang ada dip agar dan setelah selesai semua ia melaporkan peerjaannya kepada ayahnya.

Ayahnya “berkata kenapa pagarnya tidak bisa seperti semula” sang anak menjawab” itu akan sulit ayah karna sudah banyak paku yang  tertancap dipagar dan paku itu mejadikan lubang dipagar walaupun aku menambalnya tetap saja pagar itu akan ada bekas paku itu” kata aanaknya

Ayahnyapun menjawab “ seperti itulah anakku gambaran perilakumu selama ini! Kamu mudah sekali membuat orang disekitarmu sakit hati karna ucapanmu yang kasar ‘ ucapanmu itu melukai perasaan orang lain dan meninggalkan bekasnya seperti paku yang meninggalkan bekasnya dipagar ,hingga kamu membuat orang itu sedih dan hati orang yang kamu sakiti itu tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum kamu melukai hati orang itu tidak peduli berapa banyak  kamu meminta maaf tetapi hati orang yang kamu sakiti itu tidak akan pernah sama lagi seperti pagar itu walaupun pagar itu sudah kamu tambal tetap  juga tidak bisa tampak seperti semula”

Mendengar perkataan ayahnya san anak hanya terdiam tertunduk dan mulai sejak itu anak itu melai berubah lebih baik sedikit demi sedikit

******************************************************************

“. tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” ( QS An-Nisa’(4) ayat 114)

Teman Lisan ibarat senjata sejati bagi manusia seperti pada ayat tersebut pada prinsipnya agama islam tidak melarang seseorang untuk banyak berucap  hanya saja , ucapan yang keluar dari lisan hendaklah yang baik-baik saja. Perlu kita ketahui bahwa lidah adalah tak bertulang , namun ketajamannya dapat menembus hingga lubuk hati yang paling dalam. Luka yang diakibatkannya pun sering kali sulit untuk bisa dilupakan dalam waktu yang singkat. Maka rasulullah mensinyalir bahwasanya lisan dapat membawa kerusakan yang besar kalau kita tidak dapat menjaganya.

“ barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berucap yang baik atau   diam” (HR Muslim)

Dengan kata lain menjaga lisan itu adalah halyang harus benar-benar kita perhatikan. Sehingga dimasukkan ke dalam salah satu cirri atau tanda keimanan kita pada Allah dan rasulnya. Dalam realita pun kita dapat melihat seberapa besar bahaya yang diakibatkan oleh kejahatan lisan itu sendiri. Persaudaraan, kekerabatan, pertemanan, perceraian, bahkan pertumpahan darah pun bisa terjadi karena bahaya  yang dihasilkan oleh lisan. Hal ini memperkuat betapa pentingnya memperhatikan lisan kita agar tidak melukai perasaan orang lain, terlebih sampai menimbulkan kemadhorotan yang lebih besar. Kita juga sering mendengar perkataan “ diam itu emas” dan itu memang sejalan dengan apa yang diajarkan oleh agama. Teman  satu lagi pelajaran penting dapat kita ambil pelajaran dan sebagai perbaikan kita untuk terus memperbaiki diri kita semoga bermanfaat

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 28/12/2010, in Home, lisan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: