Kisah Perjuangan Hidup Anak-Anak Palestina (1)


INI adalah sebuah kisah nyata yang dialami anak-anak dipalestina yang sekarang ini sedang dijajah oleh zionis israel, semoga sedikit cerita ini dapat menjadikan kita untuknerusaha lebih baik dan dapat mengambil pelajaran untuk diri kita dan seluruh ummat islam seluruhnya.

“Dua satuan serdadu yahudi menghentikan kami di pinggir jalan yang membentang dari ramllah ke yerusalem. Mereka menyuruh kamimenngangkat tangan dan menyiiangkannya. Ketika salah seorang tentara melihat ibuku yangbermaksud menempatkanku di depannya, agar bayangannya melindungiku dari matahari bulan juli , tentara itu malah merampasku dengan kasar dari tangan ibuku. Ditangah-tengah jalan berdebu, ia menyuruhku berdiri dengan satu kaki sambil menyilangkan kedua lengan di atas kepala .

Waktu itu usiaku baru 9 tahun. Hanya 4 jam sebelumnya, aku sudah melihat serdadu-serdadu yahudi mamasuki ramllah. Sekarang , sambil berdiri di tengah jalan yang keabu abuan, aku melihat orang-orang yahudi itu memeriksa perhiasan para perempuan tua dan gadis muda, lalu menjambretnya secara brutal. Para serdadu baru perempuan yang berkulit hitam  gelap terbakar matahari itu melakukan hal yang sama bahkan mereka lebih antusias. Saat itu, aku menyaksikan bagaimana ibu melihat ke arahku sambil menangis diam-diam. Dalam hatiku , aku berharap bisa memberitahunya kalau keadaanku baik-baik saja dan matahari tidak menggangguku sehingga ia mengerti.

Aku merupakan salah satu keluarga yang masih tersisa. Ayahku sudah tiada sejak setahun yang lalu , jauh sebelum kejadian-kejadian ini bermula. Sedangkan kakakku , mereka membawanya ketika pertama kali kami memasuki ramallah. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah aku berarti bagi ibuku. Tapi kini ,aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku tidak bersamanya ketika kami tiba didamaskus, bekerja menjual koran-koran pagi, dalam gemetaran oleh hawa dingin,yang berada didekat stasiun bis.

Matahari mulai melelehkan stamina para perempuan dan lelaki yang sudah berusia lanjut. Disana-sini terdengar ratapan kegundahan dan keputus asaaan , aku melihat paras-paras yang biasa kutemukan dijalan-jalan sempit ramallah , yang sekarangmenunjukkan tanda-tanda kedukaan yang tak kepalang tanggung. Aku tidak pernah sanggup menerangkan tentang perasaan janggal ynag menerpaku ketika aku melihat seorang serdadu perempuan yahudi merenggut janggut paman abu uthman dengan gaya mengejek.

Paman abu uthman bukanlah paman kandungku tapi ia adalah seorang dokter yang baikdan tidak sombong. Kami mencintainya sejak kami mengenalnya pertama kali. Kami mencintainya sejak kami mengenalnya pertama kali. Kami  memanggilnya paman karena rasa hormat kami. Sambil berdiri tegak ia tampak memegang putri bungsunya yaitu fatima, fatima berada didekat sebelahnya. Dia mungil dan berkulit coklat , fatima menggerakkan mata hitamnya yang lebar kearah serdadu perempuan yahudi itu. “apakah dia putrimu?” tanya seerdadu perempuan itu.  Paman Abu uthman menggelengkna kepala dengan gugup, tapi matanya menyorotkan sinar kelam yang mengejutkan. Prajurit perempuan itu mengangkat senjata kecilnya, lalu ia mengarahkannya kekepala fatima. Gadis cilik itu terus menatap si serdadu perempuan dengan pandangan bertany-tanya.

Pesis pada saat itu, salah seorang serdadu yahudi bergeraj kedepanku sehingga menutupi pandanganku dari fatima, tapi kemudian aku mendrngar suara 3 tembakan terpisah. Tak lama si serdadu itu berpindah dari hadapanku, saat itu juga aku melihat wajah paman uthman telah dipenuhi kepiluan,  sedang fatima… kepala bocah mungil itu terkulai kedepan, dengan darah yang bercucuran dari rambut hitamnya,membasahi tanah coklat yang hangat.

Beberapa menit kemudian, abu uthman berjalan melewatiku. Lengan-lengan tuanya membopong tubuh fatima yang mungil,kaku dan membisu, ia melihat lurus kearah depan dengan ketenangan yang menakutkan. Ia bergegas berlalu tanpa melirikku. Aku awasi tubuhnya yang melengkung ke belakang saat melintasi barisan-barisan serdadu yahudi, lalu dia menuju jalan yang sempit, aku kemudian mengarahkan pandanganku ke arah isteri paman abu uthman yang duduk ditanah seraya menangis, dengan kepala dalam dekapan tangan. Mendengar rintihan kesedihan perempuan itu, seorang serdadu yahudi berpaling padanya , menyuruh ia berhenti, namun bibi uthman tidak mau berhenti. Ia telah melampui batas-batas keputusasaan .

Kini, aku bisa melihat segala sesuatu yang terjadi dengan jelas. Aku menyaksikan bagaimana serdadu yahudi itu menendangnyaan bagaimana bibi uthman jatuh telentang dengan wajah berdarah. Semuanya terlalu jelas, aku melihat serdadu itumenyorongkan laras kedada bibi uthman dan satu tembakan pun bergema……., Saat berikutnya serdadu yang sama berbalik ke arahku, dengan tenang, ia menyuruhku mengangkat kaki, yang sudah kuturunkan, tanpa ,melihat ke tanah, ketika aku sudah mengangkat kaki lagi, tanpa alasan,ia menampar wajahku dua kali. Memakai kausku, ia mengelap darah dari mulutku yang mengenai punggung tangannya, merasa tak berdaya, aku melihat ibuku berdiri di antara para perempuan. Kedua tangannya terangkat,ia menangis diam-diam. Tapi, tepat pada saat itu,menembus sedu kesedihannya, terdengar pula tawa pelan yang menyedihkkan. Kurasakan sebelah kakiku meliuk di bawah berat badanku, aku nyaris ambruk oleh rasa sakit yang sangat menyiksa. Meskipun begitu aku ikut tertawa, rasanya aku ingin berlari  ke arah  ibuku dan berkata padanya bahwa dua tamparan itu sama sekali tidak menyakitkan, aku baik-baik saja. Aku ingin ibuku tidak menangis dan meniru sikap paman Abu uthman.

Namun pikiran-pikiranku terputus ketika paman abu uthman lewat lagi didepanku, sesudah menguburkan fatima. Ia kembali ketempat semula ,pada saat itu ia tepat dihadapanku. Meskipun ia tidak melihatku sama sekali , tapi aku terus teringat kalau mereka baru saja membunuh istrinya , yang berarti ia masih harus menghadapi kepiluan yang lain. Tiba-tiba , aku merasa kasihan padanya dan merasa cemas hingga ia sampai di tempatnya. Di sana paman abu uthman berdiri sejenak dengan punggung menghadap padaku, tampak bungkuk , basah kuyup oleh peluh. Sambil menatap punggungnya, kucoba membayangkan bagaimana wajahnya saat ini : beku,diam,dan berbintik-bintik dengan janggut berkilauan karena keringat, [aman abu uthman membungkuk ke bawah untuk mengangkat jasad istrinya dengan kedua tangannya yang sudah berumur. Rasanya , waktu belum lama berlalu saat paman abu uthman berjalan melewatiku untuk ketiga kalinya, dengan napas yang panjang dan berat. Titik-titik keringat masih bercucuran di wajahnya yang keriput. Ia melintas langsung dihadapanku tanpa melihatku sama sekali. Sekali lagi aku mengawasi punggung bungkuknya yang basah kuyup oleh peluh,saat ia berjalan pelan-pelan di antara barisan serdadu. Orang-orang menahan air mata mereka , sementara itu……………… to be continue…………….

*****************Insyaallah cerita akan dilanjutkan di postingan berikutnya******************

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 02/05/2011, in Palestina and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. achmad anshori

    asLkm
    mohon lanjutannya,,
    klw bsa berikan berita ter up date dari plestina

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: