Nalar Keimanan


“ Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At- Taubah (9) ayat 41)

Rasa memiliki seringnkali terkadang membuat kita lupa akan satu hal bahwa kita itu hakikatnya seseorang yang diberi sesuatu yang bukan milik kita. Kita sebenarnya disuruh untuk belajar bagaimana menikmati sesuatu yang bukan milik kita tersebut bukan malah menjadikan sesuatu titipan itu menjadi milik kita . maka bagi seseorang yang didunia ini sadar akan dirinya dan apa yang ia miliki itu bukan miliknya tapii hanya sebuah titipan yang dititipkan kepadanya . dia tiidak akan merasa sedih jika sesuatu titipan itu diambil ataupun dia akan berterima kasih kepada yamg menitipkan sesuatu untuk kita nikmati sementara kepadanya . jangan sampai kita menjadi orang yang lalai, menjadikan sesuatu titipan itu adalah hak kita.

Maka sebagai wujud syukur kita karena kita telah diberikam bamyak hal oleh Allah , salah satunya adalah kita berjuang dijalannya

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat (QS Al-Baqarah(2) ayat 214)

“ diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah(2) ayat 216)

Maka akan banyak orang yang berkata apakah aku tidak di ridhoi Allah pada saat berada dalam kebenaran lalu banyak rintangan, banyak celaan dan banyak pengorbanan tapi jika dilihat dengan mata kepala seolah apa yang ia korbankan selama ini sia-sia sehingga banyak orang yang menggunaka alas an tersebut untuk berhenti. Maka jika hal itu diterapkan oleh rasulullah dan para sahabat maka agama islam ini tidak pernah sampai disini seperti apa yang kita nikmati, bukankah mereka pernah dilempari batu, bukankah mereka pernah diusir dan bukankah mereka saat lebih memilih keimanan ada yang disiksa ditimpa batu diterik yang sangat menyengat ditambah dicambuk, ada juga mereka yang disiksa panggang diaatas bara api sehingga cairan tubuhnya keluar dan juga ada mereka yang mementingkan keimanan mereka harus menjadi orang yang miskin padahal dahulu sebelumnya mereka kaya. Lalu jika mereka menggunakan nalar seperti apa yang kita gunakan maka bagai mana muungkin agama islam akan sampai kepada kita . padahal sudah cukup banyak alasan  mereka untuk berhenti ,tetapi mereka menggunakan nalar keimanan  mereka tidak berhenti lalu berkata mungkin Allah tidak ridho kepada kita atas dakwah kita , tetapi mereka terus berjalan melangkahkan kakinya untuk terus maju. Karena keridhoaan Allah tidak adapat kita ukur atau kita tafsirkan  dengan hal-hal yang mudah. Kalau kita dakwah, dakwah kita lancer, kalau kita berjuang sedikit yang kita korbankan, kalau kita menyeru kepada orang lain kepada kebaikan maka orang tersebut lalu menerimanya dan seterusnya hala-hal yang mudah itu terjadi lalu kita baru akan mengatakan Allah telah ridho dengan apa yang kita kerjakan. Tetapi itu seumua rupanya bukanlah tolak ukur ridhonya Allah kepada kita tetapi ridhonya Allah kepada kita adalah bagaimana kita tetap berpegang teguh kepada perintahnya , lalu menghadapi apa yang terjadi akibat kita menjalankan perintahnya. Maka kita akan melihat bilal disitu yang rela menanamkan keimanannya ditengah siksaan cambuk dan ikatan tali diatas batu ditengah terik matahari , kita akan melihat salman farisi disitu sang pengembala dari Persia yang menempuh perjalanan begitu jauh dan panjang hanya untuk menemukan islam , kita akan melihat mus’ab bin umair anak seorang hartawan lalu dia rela meninggalkan itu semua dan meninggal dalam keadaan bajunya berkancing duri dll. Mereka itulah beberapa contoh orang yang tetap tegar dujalan Allah dan rasulnya ketika nalar dunia mulai muncul kepermukaan mereka langsung menyergapnya dengan nalar keimanan sehingga tipu daya nalar dunia itu mampu ditundukkan. Mereka siap mengambil resiko atas apa yang telah mereka putuskan, mereka siap meninggalkan kesenangan kehidupan dan memilih kesenangan akhirat

” Tetaplah berpegang pada iman, tanpa meminta garansi keberhasilan. Inilah tanda kebesaran jiwa seseorang”

 

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 16/10/2011, in iman, renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: