Skala Prioritas



“Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya.Mereka akan merasakan “buah”nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.” (DR ‘Aidh Al-Qarniv )

Tiga perkara, barangsiapa memilikinya ia akan merasakan lezatnya iman : Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaannya kepada yang lain, cinta kepada orang lain karena Allah, dan membenci kekafiran sebagaimana ia merasa benci dicampakkan ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]

 Pernah kah kita mendengar sahabat Rasulallah yang namanya hanzhalah , ya lelaki yang dikatakan oleh rasulallah lelaki yang dimandikan oleh malaikat, sahabat rasulaallah yang satu ini memang sangat luar biasa bagaimana dia mampu menjadikan jihad dijalan Allah adalah skala prioritas yaitu perkara yang didahulukan sebelum perkara-perkara yang lain, bagaimana tidak , hanzalah yang baru saja melangsungkan pernikahan dan baru saja bulan madu lalu mendengar seruan jihad dimedan perang pada senja harinya pada perang badar , dia langsung bangun dari tempat tidurnya belum sempat mandi junub dan bergegas bersiap untuk perang, dengan keiklasan,keteguhan dan semangatnya dia berjuang dengan luar biasa hingga syahid dijalannya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda : “Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.. Hanzalah seolah –olah ingin  memebererikan suatu teladan bagi kita semua bahwa hari ini mungkin hari dimana habisnya umur dia sehingga tak ada waktu lagi untuk menunda kebaikan apalagi menunda kesempatan unutk masuk surga dengan jihad dijalanNya, dan seolah-olah dia mengatakan pada dirinya bahwa hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik, hanya hari ini aku berkesempatan untuk menegakkan kalimat Allah dan hanya pada hari ini aku berkesempatan untuk memasuki surga Allah yang hanya akan dimasukki oleh orang-orang mulia dan tinggi derajatnya dihadapanNya. Maka detik itu juga dia tahu mana yang harus ia dahulukan kepentingan akhiratnya yang akan membawanya dalam kehidupan abadi atau kepentingan duniawi yang bersifat sementara dan menipu.

“Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah “.(QS fathir : 5)

 Keputusan Hanzhalah adalah sebuah keputusan yang didasari dengan nalar keimanan dan kecintaanya kepada agama, itulah kekuatan iman yang kadang kala selalu mengalahkan hal-hal yang diluar akal manusia, dan keputusan itu bukti wujud nyata dari seorang Hanzhalah kepada Allah. Begitu besar pelajaran yang ingin disampaikan hanzalah kepada kita semua sebagai orang mukmin bahwa jika seorang mukmin itu dihadapkan kepada 2 urusan : urusan pertama adalah urusan akhirat dan urusan kedua adalah urusan dunia maka orang yang beriman itu akan mendahulukan urusan akhiratnya itulah bukti dari sebuah keimanan.      

  Saat kita sekarang ini berada di dalam kenikmatan  atau sedang menikmati sesuatu yang mungkin kita ingin lakukan lalu datang seruan untuk menegakkan kalimat Allah maka pilihan mana yang akan kita dahulukan ? seruan Allah dan rasulnya atau seruan keduniawian. Maka alangkah sedihnya jika seandainya rasulallah dan para sahabatnya sekarang jika masih hidup lalu menemui umattnya yang sekarang jika duseru untuk bersama-sama berjuang dijalan Allah ,yang mereka ucapkan “ aku sibuk” atau aku sedang mengurus toko atau aku sedang mencari harta atau jika aku pergi siapa yang menjaga hartaku. Seolah-olah waktunya yang diberikan oleh Allah itu hanya diberikan untuk memenuhi keduniaannya saja  hingga hal-hal yang berhubungan dengan akhirat mereka tinggalkan dan jika waktu itu akan digunakan untuk memenuhi hal-hal yang berhubungan dengan akhirat mereka mengatakan  tidak sempat dan tidak ada waktu luang. Padahal Kehidupan orang-orang seperti ini akan membawa diri mereka sendiri kepada sifat Wahn (terlalu cinta kepada dunia dan takut mati) sehingga mental-mental orang seperti ini akan menjadi menta-mental buih(busa) yang selalu terombang-ambing dalam ketidakpastian. Tapi sebaliknya barang siapa menjadikan Allah dan Rasulnya sebagai skala prioritas (hal yang diutamakan )maka Allah berjanji akan member kecukupan.

Hadits Qudsi : “Hai hamba-hambaku barang siapa yang menyempatkan waktu untuk Ku(Allah) maka Aku(Allah) akan memberinya  rasa kaya dalam hatinya , Tapi barang siapa tidak seperti itu maka Aku akan membuat hatinya menjadi miskin dan tangan nya akan Aku penuhi dengan kesibukkan dunia,

 

Dari hadits qudsi diatas sudah jelas lah bahwa orang yang lebih mementingkan kehidupan akhiratnya dia akan dicukupkan oleh Allah tapi sebaliknya orang-orang yang selalu rakus kepada dunia mereka maka Allah akan menanamkan dalam hati mereka kafakiran yang selalu kurang dan kurang  sehingga mereka lalai dengan akhiratnya karna kesibukan dunianya.

“ mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ar-rum : 7)

“dan Barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS al-isra’ : 72)

Tidak ada manusia yang meninggalkan agamanya lalu mendapati dunianya berkembang, justru yang terjadi sebaliknya Allah akan menjadikan apa yang ada pada dunianya menjadi berbahaya bagi dirinya.

“dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”  (QS al-an’am : 32)

“dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS al-kahfi:28)

 “barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (QS asy-syuara : 20)

 

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 02/11/2011, in iman, nilai diri and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: