Hasan Al-Banna **Guru Para Syuhada** (jilid 2)


“aku adalah penjajah yang mencari kebenaran, mencari manusia untuk sebuah makna kemanusiaan dan mencari martabat,kebebasan,stabilitas dan kesejahteraan di bawah naungan islam. aku adalah orang bebas yang sangat menyadari arti tujuan keberadaanku dan aku menyatakan ” sesungguhnya ibadahku,pengorbananku,hidupku dan matiku semua hanya untuk Allah , tuhan semesta alam yang tidak ada tuhan selain Dia. aku diperintahkan untuk menjadi orang-orang yang tunduk kepada kehendak-Nya. dan saksikanlah itulah Aku, lalu siapa kamu?”  (Hasan Al-Banna)

Sejak kecil hasan albanna memiliki hobi yang aneh , di desanya mahmudiyah  saat liburan ia mempunyai kebiasaan yang sangat aneh sekaligus indah. Ia membagi wilayah mamudiyah dan menentukan siapa yang akan menjadi orang yang membangunkan orang-orang untuk shalat subuh. Dari pintu ke pintu dai runah ke rumah, ia membangunkan orang-orang untuk shalat subuh berjamaah. Setelah itu aiakan duduk menyendiri di tepi sungai nil, mendengar satu per satu azan bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid lain. Di benaknya ia mengatakan bahwaia telah berperan membangunkan muadzin yang kini menyeru manusia untuk menunaikan shalat dan menyembah tuhannya. Sungai nil yang mengalir menjadi saksi tentang rasa bangga dan bahagia yang menyelimuti dada hasan albanna kecil. Kebahagiaannya itu semakin bertambah ketika kakinya melangkah ke dalam masjid dan mendapati dirinya sebagai satu-satunya jamaah terkecil yang ada untuk menyembah Allah Tuhan Semesta Alam. Maka dikemudian hari hasan albanna merumuskan perasaannya itu seperti sebuah syair yang ia ingat pada waktu ujian. Syair yang menggambarkan perasaan dan  harapan :

Seandainya saya menjadi selain manusia

Saya memillih menjadi bulan

Yang bersinar di saat malam purnama

Hasan al-banna sangat hobi dan cinta tulis menulis, ia menumpahkan perasaannya lewatbait-bait syair, lewat kata-katayang disusun indah, esai-esai panjang yang menggambarkan pikiran dan rencananya, juga catatan-catatan kecil yang menggugah. Maka inilah yang diucapka hasan al-banna saat mengukapkan kecintaannya pada tulis menulis :” apapun alasan yang ada, sayamemang suka menulis dan saya akan tetap memenuhi keinginan saya untuk tetap menulis, jika apa yang say tulis adalah sesuatu yang benar, Alhamdulillah . namu jika tidak, maka Astagfirullah. Tetapi saya yakin bahwa kalaupun tulisan ini tidak bermanfaat, insya Allah tetap tidak mendatangkan mudharat. Namun kebaikanlah yang saya inginkan, danallah sajalah yang dapat memberi taufiq” .

Pikiran dan perasaannya dapat ia tuangkan dengan sangat kuat pada tulisan, pada tinta-tinta dikertas yang merangkai kata. Tulisan dari hasan al-banna lebih banyak mengandung peningkatan kualitas dirinya, mengingatkan dirinya dan menjaga kebersihannya. Salah satu pelajaran yang paling ia sukai adalah pelajaran mengarang kerena dipelajaran ini ia bisa meluahkan perasaan dan pikirannya tentang kebenaran. Salah satu guru yang ia kenang adalah guru mata  pelajaran insya’/ mengarang, namanya syaikh ahmad jusuf najati. Sang guru sering memotivasi untuk mengarang dan mempelajari sastra, tapi dilalin pihak sang guru justru mengalami kerepotan karena saking termotivasinya para murid, mereka menulis karangan dengan sangat panjang. Namun sang guru tetap membaca dan mengoreksinya, meski dengan penuh kelelahan. Sampai-sampai sang guru akhirnya berkata kepada murid-muridnya : “ melihat tulisan kalian yang begitu panjang bak kereta, kalian itu harus efesien, karena sastra itu simpel, Demi Allah, saya tidak mengagung-agungkan karang mengarang, tetapi juga tidak membuangnya ” . perkataan sang guru pun  disanbut tawa para muridnya termasuk hasan al-banna yang suka menulis berpanjang ria. Hasan al-banna sangat menggebu-gebu dalam menuntut ilmu. Ilmu apapun ingin ia pelajari, sampai ia merasa dinasehati saat membaca kembali Al-ihya karangan imam al-ghazali. Dalam buku itu, seolah-olah ia mendapat nasihat langsung dari al ghazali,bahwa bahwa tidak semua ilmu harus dipelajari, pelajarikah ilmu-ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang penting saja, agar waktu tidak terbuang secara percuma-Cuma.

Hal itu menimbulkan kanflik dalam diri hasan al-banna antara keinginannya untuk belajar dan waktu yang terbatas dalam kehidupan yang singkat ini. Dari sanalah lahir pernyataan legendarisnya :”waktu yang ada jauh lebih sedikit dari tugas yang harus kita selesaikan dengan sempurna”

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 10/11/2011, in Kisah Para Pejuang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: