Maafkan Kami Ya Rasulullah….


“Mencintai nabi adalah membela sunnahnya dan menegakkan syariatnya, serta rindhu bertemu dengannya.  Untuk mewujudkannya seseorang akan rela mengorbankan jiwa dan hartanya” (Al Qodhi ‘iyadh rahimahumullah)

“Para pecinta Sejati tak suka berjanji. tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai. mereka akan segera membuat rencana untuk memberi”  (M. Anis Matta) 

Mungkin ini hanya kisah tentang tetesan air mata. Tapi ia menjadi begitu mulia karena dua hal. Pertama, mata orang yang menitikkan air mata, dan kedua karena tempat dimana air mata itu jatuh. Air mata itu adalah milik abu bakar shidiq ra. Dan tempat jatuhnya air mata itu adalah  Rasulullah saw. “seandainya aku bisa memiliki seorang kekasih, niscaya kekasihku adalah abu bakar,” begitu kedalaman perasaan Rasulullah saw kepada sahabatnya , abu bakar ra. Keduanya, hari itu sedang berada disebuah gua pengap dan gelap, gua tsur namanya, sebuah gua yang menjadi persinggahan sekaligus persembunyian  mereka saat berhijrah dari persembunyian mereka saat berhijrah dari mekkah ke madinah munawwarah.

Abu bakar sebenarnya sudah lebih dahulu memeriksa kondisi gua sebelum rasulullah saw masuk. Setelah dianggap cukup aman , rasulullah pun masuk. Utusan Allah itu lalu membaringkan tubuhnya diatas tanah , dengan kepalanya berbantalkan paha abu bakar, hingga pada satu lubang yang berdekatan kedua makhluk mulia itu terdapat sarang ular. Dan abu bakar dengan cepat tanpa pikir panjang ia menutupi lubang ular itu dengan kakinya, karena abu bakar tidak ingin melihat Rasulullah terbangun dari tidurnya. Tetapi  hingga suatu saat abu bakar pun merintih kesakitan menahan sakitnya, karena akhirnya ular itu menggigit kakinya. Tetapi ia tetap berusaha  menahan sakit sekuat tenaga , hingga kakinya tetap  tak bergerak . detik-detik selanjutnya dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas karena bisa ular yang menjalar cepat. Abu bakar kembali merintih menahan sakit dan badannya gemetar. Ia menangis diam-diam,hingga suatu saat air matanya menitik satu demi satu, tetesan itu jatuh ke wajah Rasulullah saw hingga ia terbangun dan terkejut. Isak tangis abu bakar pun tak bisa ditahan, keluar dari mulut Abu Bakar yang mengkhawatirkan keadaan Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam kalau-kalau nabi ditangkap musuh dan dibunuh padahal dirinya sedang dalam keadaan terkena bisa ular. Maka saat itu Nabi Shalallaahu alaihi wasalam membisiki Abu Bakar; “Laa tahzan innallaha ma’anaa”, janganlah engkau bersedih hati, karena sesungguhnya Allah beserta kita.  Inilah kisah tentang tetes-tetes air mata yang sangat mulia. Tetes tetes air mata yang menjadi saksi atas gemuruh cinta yang tak mungkin lagi tertahan oleh rasa sakit yang begitu menggigit. Tetesan air mata itulah sebenarnya makna lain dari luapan rasa cinta abu bakar ra kepada utusan Allah SWT.

Barang kali sahabat khalil(kekasih) Rasulullah itu ingin mengucapkan pemohonan maaf , karane ia tak lagi kuat membendung air mata yang akhinya jatuh mengenai wajah sang rasulullah  yang tengah beristirahat penat, mungkin sahabat yang bobot keimanannya disebut rasulullah saw melebihi kadar keimanan seluruh penduduk bumi itu , karena air matanyayang jatuh diwajah rasulullah membuat nabi terjaga dan terkejut.

Peristiwa ini berlangsung diawal tahun hijriah, dari cerita tersebut banyak hikmah dan kenyataan  bahwa kita sebagai kaum muslimin rupanya rasa cinta kita kepada rasulnya masih begitu jauh dari apa yang dicontohkan oleh para pendahulu-pendahulu kita . bahkan rasa mencintai kita kepada junjungan kita nabi Muhammad saw sangat merisaukan ketika kita semua sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi dengan kesibuka itu kita lupa akan hal-hal yang seharusnya kita laksanakan sebagai penganut agama islam. Maka tidak pelak akibat kelalain dan kelangahan kita secara sadar atau tidak banyak kenyataan yang makin menghentak kesadaran atas kemuliaan dan kesucian Rasulullah saw yang telah dinodai dan dinistakan. Adakah titik airmata yang jatuh atas karena kedukaan akibat kita tidak mampu memelihara kehormatan beliau dan kemuliaan beliau seperti halnya abu bakar.

Bahkan Sebagian kita masih sempat bercanda dalam tawa ditengah kehormatan dan kemuliaan sang rasulullah saw yang terdera. Sebagian kita masih belum terpantik sentimennya atas prilaku orang-orang yang begitu berani menodai kehormatan dan kemuliaan sang utusan Allah SWT itu. Kita masih tenggelam dalam dunia yang begitu menguasai pikiran dan hati kita. Sementara ada banyak prilaku tak pantas melukai dan mengkotori kemuliaan rasulullah saw yang seharusnya mamapu menggetarkan hati.

Kita tahu, jika kesucian nabi Muhammad saw tidak akan mungkin terkotori hanya karena ulah orang-orang yang memang berrniat mengotorinya. Engkau tetaplah sosok yang mulia dan termuliakan oleh jejak perjuangan hidupmu. Tapi kami merasakan keberanian orang-orang yang menodai kesucianmu, adalah juga akibat dari kelemahan dan ketidak berdayaan kami. karena kamilah, orang orang itu masih tetap berdiri  menjawab keresahan bahkan kemarahan kami.

Maafkan kami ya rasulullah ……  jika kami begitu terpukul  ketika  menyadari relung-relung hati kami yang tidak dipenuhi kadar kecintaan yang harusnya ada. Kami baru sekedar kagum dan merasakan keindahan pengorbanan serta cinta para sahabatmu. Entah, bila ternyata masih juga ada di antara ummatmu yang nyaris tidak terbetik dalam hatinya untuk terluka ketika orang menodai kehormatanmu, mereka mungkin menilai,keagunganmu tidak akan mungkin tercemar dengan noda dan penghinaan itu. Boleh jadi alasan itu benar, namun sesungguhnya rasa cinta sejati tidak mudah menerima penghinaan terhadap apa yang dicintainya. Seperti perkataan Ibnu taimiyah rahimahullah yang mendedah salah satu konsekwensi cinta. Beliau berkata “mencintai apa-apa yang dicintai Sang Kekasih, merupakan tanda-tanda kecintaan kepada sang kekasih,mencintai sang kekasih,tidak mungkin tercapai kecuali dengan mendekatkan diri kepada apa-apa yang kita benci (menjahui apa-apa yang dibenci Sang Kekasih).

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali-imran(3) ayat 31)

Maafkan kami ya rasulullah ,……

Kondisi kami yang tidak meneladanimu dalam beribadah, dalam menilai, dalam menjalani kehidupan, dalam mengatasi masalah hidup, dalam seluruh sikap dan cara hidup kami secara sadar ataupun tidak sadar kami berarti mengurangi kemuliaanmu dan kesucianmu. Sikap kami yang tidak banyak membaca dan merenungi sirah perjuangan dakwah mu. Prilaku kami yang tidak banyak mengajak dan menyebarluaskan ajaranmu.semuanya seperti menambah kekurangan dan melengkapi kerendahan kami dihadapan keagungan hidupmu.

Maafkan kami ya rasulullah.,,,,……

Inilah kami, sekian abad dari masamu dalam tubuh ringkih yang penuh dosa, dengan lidah kelu yang tercemari kedustaan dengan mata dan telinga , kaki dan tangan yang banyak kami gunakan untuk kelalaian . kami beranikan diri kami menyerumu. Maafkan kami ya rasulullah…. Ini bukan permohonan maaf yang berisi kepasrahan. Tapi permohonan maaf yang sejatinya semakin mendekatkan kejauhan kami kepada kemuliaanmu. Permohonan maaf yang menjadi titik tolak kami untuk lebih mengenalmu, mencintaimu, mengikutimu dan membelamu dengan apapun yang kami punya dan kami miliki. Maafkan kami ya Rasulullah…….

(Majalah Tarbawi edisi 127 th. 7 Rabi’ul Awal 1427 H )

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 05/12/2011, in renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: