Antara Hari Lalu & Harapan Hari Esok (Renungan Akhir Tahun)


Waktu terus berjalan meninggalkan siapa saja yang masih duduk- duduk bersantai sambil berpangku tangan . ia terus bergulir bersama mereka yang selalu meneteskan keringatnya menempuh jauh perjalanan , bersama mereka yang selalu kokoh tegar menghadapi deras arus kehidupan dan ia jauh pergi bersama mereka para pemuja RabbNya, siang dan malam dalam keadaaan sunyi maupun ramai ketika lapang atau ketakutan. Detidetik yang terkumpul menjadi menit kemudian mejadi jam pecah menjadi bulan, tahun, windu dan abad. Tidak terasa sudah begitu lama semesta yang luar biasa ini diciptakan. Sudah sekian lama kita menerima amanah sebagai pengelola bumi. Dan sudah terlalu lama cerita kehidupan  bergulir , berganti judul berganti tokoh tanpa pernah berganti pengarang dan penulis . maka kemudian ada yang cerita kehidupannya mengalir indah halaman –halaman berikutnya selalu dinanti pembaca, karena cerita yang indah . namun ada pula sebaliknya , cerita kehidupannya sangat membosankan , pembacanya pun seolah ingin segera mengakhiri

Dan saat inipun kita seperti satu tahun  yang lalu. Tanpa terasa 365 hari telah berlalu menninggalkan , itu juga berarti bahwa 365 hari dari kesempatan untuk menabung amal telah lewat pula. Jika ada banyak kebaikan yang tercapai maka tidak sedikit pula kita telah keliru melangkah , jatuh kepada lubang-lubang kesalahan , barangkali itu adalah kesalahan baru bagi kita , tapi tidak jarang itu merupakan kesalahan  lama yang seharusnya tidak boleh terjadi lagi. Untuk kebaikan yang telah kita capai ,kita mohon kan istiqomahan kepada Yang maha kuasa

“wahai engkau yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam ketaatan agama-Mu”

sang nabipun bersabda dengan begitu indahnya : “sesungguhnya hari semua manusia itu berada diantara dua jari Allah yang bisa Dia bolak-balikkan  sesuai kehendaknya “ (HR Tirmidzi 2066)

mempertahankan suatu pencapaian kebaikan bukanlah hal mudah. Tangan kaki terasa begitu ringan terangkat pertama kali , tapi terasa semakin berat pada langkah berikutnya . manusia tidak kuasa untuk mengekekalkan  ke terus menerusan itu dalam dirinya. Perlu kita mengadahkan tangan dengan penuh harap kepada-Nya yang tidak pernah berkurang ketika kita minta. Selanjutnya mari kita minta energy sebanyak-banyaknya untuk hari-hari depan yang insyaAllah akan kita lalui dengan kehendak-Nya.

“ ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut , sifat bakhil , kepikunan dan siksa kubur” (HR Muslim)  

(dikutip dari majalah Embun edisi 17 )

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 31/12/2011, in renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: