Mengambil Kemanisan Dalam Kesulitan


Kelemahan jiwa manusia selalu saja terjadi disaat, bencana. Karena itu jiwa harus diberi kakuatan baru pada saat berada dalam kesulitan. Bila tidak, jiwa akan dipenuhi keputusasaan dan dapat menghancurkan diri sendiri. (Ahmad Bin Yusuf)

Kesulitan dapat menghampiri kita dalam wujud apapun. Dalam bentuknya yang amat pahit, dalam lukanya yang amat perih, dalam gempurannya yang amat dahsyat. Cuma kita yang tahu, bagaimana kelamnya kesulitan-kesulitan itu. Cuma kita yang tahu, bagaimana kesulitan yang terasa seperti tak terperi, demikian menghempas kita. Karena luka yang mendatangi kita itu, hanya kita yang benar-benar “mengerti”. Sendiri. namun bahwa manusia mempunyai daya tahan yang luar biasa, itupun kita pahami, bahkan ditangah-tangah kesulitan itu, kita justru bisa terilhami darinya kita dapat mengambil manisnya hidup darinya, kita sebenarnya punya potensi untuk berhasil bertahan dari kesulitan yang bagaimanapun, yang seperih apa pun, bahkan kita punya potensi untuk mengambil inspirasi dan kemanisan darinya. Hingga, titik baliknya bukanlah pada seberapa dahsyatnya kesulitan itu, namun bagaimana kita mampu menjadikannya inspirasi ketegaran, inspirasi kemajuan dan inspirasi kekuaatan. Tapi itu semua tentu tidak mudah , namun itu bukanlah hal yang mustahil yang dapat kita wujudkan.

Harus kita sadari bahwa realitas hidup yang kita jalani ini adalah pergulatan menghadapi kesulitan. Tak seorangpun yang bisa lepas darinya, karena ia telah menjadi milik kita semua, kesulitan adalah sunnatullah, yaitu suatu hukum yang telah ditetapkan Allah secara permanen. Rela atau terpaksa, mau atau tidak, kita pasti akan menghadapi kesulitan tersebut, dengan berbagai tingkatan dan bobotnya yang berbeda. Allah telah gariskan hal itu dalam firmannya

“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-baqarah (2) ayat 155)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS Al-baqarah(2) ayat 214)

Secara lahiriyah setiap orang pasti membenci kesulitan dan merindukan kemudahan. Karena itulah fitrah kita. Apalagi kesulitan itu sering kali mewariskan kegetiran, penderitaan serta rintihan yang menjemukan dan menyiksa. Namun jika kita mau menggunakan akal dan kesadaran kita, sesungguhnya dibalik kesulitan yang kerap kita pandang dari sisi negative itu , tersimpan kasih sayang Allah SWT pada kita.

Jika kita mau jujur, sebenarnya kesulitan itu membawa hikmah dan manfaat yang besar. Kesulitan akan menghasilkan pengetahuan, karena ia hakekatnya adalah pengalaman yang mengajarkan kita banyak hal. Kesulitan  juga akan menjadikan kita semakin kuat dan lebih kreatif menghadapi kehidupan ini. Dan yang lebih penting , kesulitan adalah sarana bagi Allah untuk memberi balasan pahala atau mengugurkan dosa keburukan kita, hamba-hambaNya.

Bagi orang yang bisa menghadapi setiap kesulitan secara dewasa arif  bijaksana ia akan terilhami untuk menemukan hal yang baik dari kesulitan-kesulitannya. Namun itu bukanlah hal yang mudah , kita butuh bekal sikap dan kiat yang ampuh dari diri kita sendiri, agar setiap kesulitan yang dating, pergi dengan meninggalkan buah kenikmatan. Kita tentu tidak mau merugi 2 kali : merugi karena kita tertimpa kesulitan dan rugi karena kita tidak mendapat apa-apa dari kesulitan tersebut. Karena itu jika kita ditimpa kesulitan , lihat dan ambillah sisi baiknya seperti kata imam ghazali, “jika seseorang memberi  kita segelas air jeruk yang masam , jangan dibuang tapi cukup tambahkan gula secukupnya. karena

.” boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS Al-baqarah(2) ayat 216)

Atas dasar kebeningan hati dan kemampuannya dalam menghadapi kesulitan, maka kita akan bersinar. Keika kita melatih diri kita untuk bersikap sabar dan berbesar hati, maka kesulitan dan malapetaka pun akan mudah kita taklukkan. Rasulullah pernah bersabda “ barang siapa yang bersabar, Allah akan memberikannya kekuatan yang lain untuk tetap bersabar pada kesulitan yang berikutnya”. Seringkali kita merasakan beratnya kesulitan itu bukan karena bobotnya. Tetapi beban berat itu lahir justru karena kesalahan kita dalam menyikapi kesulitan tersebut. Kadang kita cukup membawa sebuah lilin utuk menerangi kita disaat gelap, tapi kita malah membawa obor yang nyalanya berkobar-kobar sehingga api itu membakar semua apa yang didekat kita.

Orang-orang beriman selalu punya caranya sendiri untuk bisa menata hatinya, meski berlawanan dengan apa yang dilihat oleh matanya, ataupun apa yang dirasakan oleh fisiknya, atau apa yang ia terima dalam kehidupannya. Saat ia mendapat musibah, airmatanya menangis tapi hatinya terilhami untuk meyakini, bahwa apa yang diberikan Allah pada dirinya pasti yang terbaik baginya. Saat ia mendapati kesulitan demi kesulitan, seakan berentetan tanpa ujung, fisiknya mungkin lelah. Kepalanya mungkin pusing . pikirannya mungkin sangat penat. Tapi justru itu mengilhami hatinya, untuk terus meyakini, bahwa bila  seseorang diuji oleh Allah, itu tandanya Allah masih sayang dengan orang itu.

Setiap kita punya drama hidup masing-masing. Juga kadar senang atau susahnya, suka atau pedihnya. “Dan kami akan menguji kalian dengan yang baik dan yang buruk sebagai ujian .”  begitu Allah menjelaskan. Setiap kita mungkin juga pernah mengalami masa-masa paling sulit sepanjang sejarah hidup kita, kecuali segelintir orang yang mungkin merasa tak pernah punya kesulitan, setiap kaidah selalu ada pengecualian.

Pada mulanya haruslah keyakinan itu sendiri , bahwa sesaat demi sesaat kelapangan akan tiba , tidak ada ilham yang melebihi keyakinan akan kekuasaan dan pertolongan Allah. Sebab dari sana kesadaran disandarkan kepada tempat yang benar. Bagi Allah sangat mudah untuk mendatangkan pertolongan, sebab memang hal pertama yang harus dilakukan orang ketika mendapat kesulitan adalah merekontruksi  scenario tindakan emergency dan penyelematan. Dan itutak lain adalah memohon kepada Allah langsung. Namun betapa sering kita sulit menghadirkan kuasa Allah, eksisitensi-Nya, keadilan Nya, didalam carut marut peta musibah, ujian atau kesulitan yang kita terima.

Ilham keyakinan ibarat pasa-pasak didalam jiwa, yang tak pernah tergoda hanya oleh angin sepoi yang menidurkan . ilham keyakinan ibarat tiang-tiang pancang yang menyangga begitu berat beban bangunan di atasnya : rumah, jembatan, gedung-gedung tinggi menjulang. Keyakinan yang kokoh akan mengalir menjadi anak sungai berupa prinsip mendasar dalam hidup, filosofi yang kuat, pilihan-pilihan sikap terhormat, kejujuran yang bertenaga,keberanian daya tahan atau bahkan semangat member manfaat yang tak pernah lelah.

Kini kita merindukan jiwa-jiwa yang kuat. Keyakinan yang terus muncul dari ilham-ilham diatas segala jalan hidup. Tapi rasanya tiada hari yang lebih kering dari hari-hari ini. Ketika tuhan tak lagi punya tempat direlung relung hati orang-orang ramai yang sebenarnya kesepian. Tak ada ilham tentang keyakinan, tak ada gairah untuk semangat. Alangkah kayanya hidup ini dengan pelajaran, juga sumber inspirasi dan ilham. Tapi alangkah miskinnya kebanyakan kita. Hari-hari berlalu dengan musibah atau karunia, tapi hanya dengan manfaat yang sedikit bagi kebanyakan orang, kecuali mereka yang terbiasa mengasah kepekaan hatinya, yang mau menahan pedihnya lahiriah, demi ketenangan batin. Kecuali bagi orang-orang yang tak tergoda oleh apa yang Nampak, bila itu tak sesuai dengan apa yang tersembunyi  “sesungguhnya menjadi sabar itu dengan berlatih menyabar-nyabarkan diri. Sesungguhnya menjadi lembut itu dengan berlatih melembut-lembutkan diri.

( TARBAWI : “mereka yg terilhami oleh kesulitan diatas kesulitan” )

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 02/05/2012, in nasihat and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: