Solilokui Pagi Hari


“Hari ini, anak-anak Palestina sedang diyatimkan, bahkan dibunuh dengan cara menyiksa, oleh yahudi Israel dengan dukungan penuh Amerika. negeri yang membunuh orang-orang saleh atas nama perdamain. Anak –anak itu melawan pesawat-pesawat tempur  dan tank-tank yang selalu siap memuntahkan bom di moncongnya, dengan batu-batu kecil. Tak ada pertolongan buat mereka. Tidak dari Arab Saudi, tdk pula dr Negara –negara yang cinta damai. Sebab, perdamain hanya diperuntukkan bagi para penjarah agar bebas melakukan apa saja tanpa perlawanan”

Astaghfirullah  ‘azhim.

Telah  terjaga tubuh ini, ya Allah di pagi hari yang matahari bersinar cerah mengikuti perintah-Mu. Telah terbangun badan ini dari pembaringan membuai  mimpi. Telah terbelalak pula mata ini menyaksikan irama alam yang engkau ciptakan. Tetapi jiwa ini ya Allah , rasanya masih lelap dengan  tidur nya. Di luar sana,  di negeri tempat cucu nabi – Mu Engkau wafatkan, ratusan saudara kami meneteskan darah dari matanya. Tapi tak sedikitpun dada kami terguncang.

Telah terbentang lebar mata ini menikmati pagi yang burung-burung Engkau jadikan berkicau indah terdengar di telinga. Di pagi ini, ya Allah, kami duduk menikmati berita tentang saudara-saudara kami yang dicungkil matanya oleh tentara Amerika. Bagai sebuah pesta, kami asyik memandangi foto-foto saudara kami yang ditelanjangi tubuhnya, disengat listrik kemaluaanya, dikuliti tubuhnya seperti jagal yang menguliti seekor kambing yang hendak diperdagangkan dagingnya. Sembari saat yang sama kami belajar demokrasi kenegeri para penyiksa itu. Kepada kaum barbar itu, kami belajar hak asasi dan kemanusiaan, sambil mengutuk anak kecil palestina yang melempari tentara Israel dengan batu kecil, melempari semata demi mengharapkan berhentinya sebuah tank besar yang kemarin telah membunuh bapaknya.

Alangkah segar pagi ini, ya Allah. Engkau ciptakan kesempurnaan alam yang indah. Sinar matahari menyemburat dice la-cela dedaunan, sebagaimana darah perempuan-perempuan muslimah di irak menyemburat dari daun telinga mereka. Hari ini, mereka tak lagi mengenal kata sakit karena gigi yang patah, sebab yang sekarang mereka rasakan sebagai derita adalah tusukan bayonet ditubuh oleh tentara yang pergi kesana untuk menciptakan negeri yang damia. Para wanita itu harus kehilangan giginya dan biji matanya hanya karena mereka tak mau berhenti menangisi suaminya yang mati. Disini, kemi belajar dari Negara yang barbar itu, bahwa setiap bentuk kemarahan seorang  muslim yang tidak rela ditinda adalah terorisme, meskipun mereka hanya melempar sebiji kerikil ke pesawat tempur yang sedang parkir.

Saudara-saudara kami disiksa, ya Allah, oleh tentara-tentara amerika yang “baik hati”. Hati kami marah, ya Allah dan membicarakannya bersama keluarga sambil menikmati sedapnya kopi instan panas buatan pendukung yahudi. Kami kutuk mereka, ya Allah  sambil kami belanjakan uang kami kepada sahabat-sahabat  mereka dengan bangga. Kami lakukan itu dengan ikhlas seikhlas ikhlasnya demi merebut   sepotong kenikmatan yang memanjakan lidah , sementara anak-anak yang baru lahir dipalestina tak lagi bisa mengeluarkan air mata.

Ya Allah, sekali waktu kami masih punya rasa malu. Tetapi untuk bertindak yang lebih jauh, tak ada pemimpin yang dapat kami tiru. Orang-orang pintar disekeliling kami, masih sibuk dengan bertengkar berebut kekuasaan, sedangkan orang-orang yang menyandang banyak gelar besar, hanya pandai berkelakar daripada memikirkan masalah dengan benar. Ataukah kami ini ya Allah yang keliru menilai pemimpin kami?  Kami mengira mereka pemimpin sejati, padahal sesungguhnya meraka adalah pemimpin yang sibuk memperjuangkan kursi. Adapun nasib kami ini ya Allah, atau lebih-lebih saudara kami yang hampir mati itu ya Allah, tergantung apa kata tuan besar yang menentukan hitam putihnya hak asasi dan kemanusiaan.

Ya Allah ataukah didalam tubuh kami yang sehat dan mata kami yang dapat melihat dengan amat jelas, sesungguhnya hati kami buta, tuli dan bisu sehingga kami tidak dapat mendengar suara-suara saudara kami yang nyata-nyata sedang disiksa oleh Polisi Dunia? Ataukah ‘izzah –harga diri- kami yang telah runtuh sehingga kami tak tahu kebenaran yang harus kami suarakan hanya karena penderitaan itu bukan kami sendiri yang mengalami? Atukah iman kami yang sedang sakit, sehingga tidak merasa takut dengan peringatan nabi-Mu?

Sunggu, nabi-Mu pernah mengingatkan kami, ya Allah. Nabi-Mu pernah bersabda “ Allah melaknat orang yang membiarkan seorang muslim dalam kesulitannya dan tidak membantunya.”

Hari ini, mereka bukan hanya dalam kesulitan. Mereka dalam penderitaan dan penyiksaan. Sementara kami disini asyik membantu musuh-musuh mereka dengan membelanjakan uang kami untuk para penyiksa itu .

Ampunilah kami, ya Allah … meski kami masih sering lupaaa.

Judul : Solilokui  Pagi Hari

Oleh : Ustadz  Muhammad  Fauzil  Adhim

Buku : Mencari  Ketenangan Di  Tengah  Kesibukan

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 28/08/2012, in renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: