SePijar Penerang Masa


sepijar masaMereka, generasi pertama itu, memandang al-Qur’an bukan untuk tujuan menambah pengetahuan atau memperluas pandangan. Bukan untuk tujuan menikmati keindahan sastranya dan menikmati rasa nikmat yang ditimbulkannya. Tidak ada di antara mereka yang mempelajari al-Qur’an untuk menambah perbendaharaan ilmu hanya karena ilmu saja. Bukan untuk menambah perbendaharaannya dalam masalah ilmu pengetahuan dan ilmu fikih. Sehingga otaknya menjadi penuh. Tetapi Mereka mempelajari al-Qur’an untuk menerima perintah Allah tentang urusan pribadinya, tentang urusan golongannya di mana ia hidup, tentang persoalan kehidupan yang dihidupinya, Ia dan golongannya. Ia menerima perintah untuk segera dilaksanakan setelah mendengarnya. Persis sebagaimana prajurit lapangan menerima “perintah harian”nya untuk dilaksanakan setelah diterima. Karena itu, tidak seorangpun yang meminta tambah perintah sebanyak mungkin dalam satu pertemuan saja. Karena ia merasa hanya akan memperbanyak kewajiban dan tanggung jawab di atas pundaknya. Ia merasa puas dengan kira-kira sepuluh ayat saja, dihafal dan dilaksanakan.”  (– Sayyid Qutb –)

“Materialisme yang dimotori Yahudi dan diikuti oleh Negara Negara penjajah tidak bisa diselesaikan kecuali dengan dakwah kalian, tidak ada kekuatan yang dapat menghalanginya kecuali umat ini berjamaah. Oleh sebab itu, maka aku ingatkan kalian, aku sampaikan kepada kalian, bahwa sejak saat ini kalian akan menghadapi ujian dan cobaan yang besar lagi menyakitkan. Akan tetapi, apabila kalian sabar dan bersikap konstan (istiqomah dalam kebenaran), pastilah kalian akan meraih kemenangan. Maka bersiap siaplah menyambut ujian. Bersabarlah, dan saling memperkuatlah. Hanya ada dua pilihan baik bagi kalian, menang atau mati sebagai syuhada di jalan kebenaran.”

 “Wahai ikhwan, setiap kali terlintas dihadapan kita suatu gambaran hidup yang indah lagi mulia, yang dinamis lagi bersinar, yang pancarannya keluar dari perasaan , yang dengannya Allah menyinari hati kita dan membuat dada kita bercahaya, yakni perasaan cinta karena Allah, saling bersaudara karena Allah, dan hasrat meraih keridhaan Allah, maka ketika itulah terasa bahwa segala persoalan dan kesulitan hidup di hadapan kita menjadi tak berarti.Kalaulah saja pada saat pertemuan pertama  kita hanya saling bertemu dan bertaaruf saja sudah bisa membawa kepada rasa cinta, tentulah itu sudah cukup. Dengan modal cinta saja, kita bisa mengurai persoalan persoalan yang pelik. Dasar dari cinta ini adalah kelurusan jiwa. Karena sesungguhnya jika jiwa itu rusak, rusaklah segalanya; dan jika jiwa itu baik, ikut baik pula segalanya. Kebaikannya terletak pada kejernihannya, hubungan ruhiahnya, serta keikhlasannya dalam berucap dan beramal. Jika jiwa kalian bersih, ruhani kalian akan tersambung, dan kalian juga dapat berbuat ikhlas kepada Allah dalam amalan dan ucapan kalian, percayalah bahwa kita akan dapat meraih kebaikan yang banyak. Tiada arti cinta kecuali ini. Islam tidaklah datang kecuali untuk menyatukan manusia di atas cinta dan kebenaran.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiTetaplah” (Ar Rum (30) ayat 30)

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-anfal (8) ayat 63)”  (– Hasan Al-Banna –)

 “Banyak sekali beban berat yang menyeret anda ke dalam kehancuran dan kehinaan . Mengkhawatirkan kehidupan adalah suatu beban yang membuatmu berhenti berjihad dari jalan Allah. Karena itu, anda harus bebas darinya. Takut akan kepentingan materi adalah suatu beban. Ia menghalangi diri anda dari memberikan seluruh waktu untuk dakwah dan Islam anda. Maka, anda harus bebas darinya. Terikat dengan isteri dan anak, dan keluarga adalah beban yang menghalangi berangkat di jalan Allah. Anda harus lepas dari cengkeramannya…

Dalam segala situasi, kita harus mengutamakan kepentingan Islam di atas segala kepentingan. Kemauan hawa nafsumu harus tunduk terhadap syariat dan selalu siap untuk mati di jalan Allah. Sekaranglah bertanya kepada diri anda, sejauh mana kesiapan diri anda untuk mencurahkan dan mengorbankan diri di jalan Allah?”    (– Fathi Yakan –)

“Iman tidak ada artinya kalau tak berbekas pada amal . Iman yang tak berbekas sama artinya dengan mandul. Dan amalpun tidak pula ada artinya kalau tidak dari dorongan iman. Orang beramal karena mengambil muka kepada sesama manusia, walaupun bagaimanapun baiknya, disebut Riya. Dan riya adalah syirik yang halus. Tidak dapat diterima kalau ada satu masyarakat Islam mengakui beriman dan beragama Islam, padahal tingkah laku dan kebudayaannya bersifat kekafiran. Tidak dapat diterima kalau ada satu negeri penduduknya mayoritas Islam, padahal segala maksiat yang dilarang Islam dibiarkan saja.”   (– HAMKA –)

“Pada umumnya manusia hidup hanya pada batas batas tuntutan mereka yang tertentu. Apabila mereka mempunyai suatu kebutuhan, maka akan menjadi kuatlah perasaan mereka dengannya. Mereka senantiasa berusaha berdasarkan apa yang mereka miliki atau yang mereka anggap hak mereka, mereka bersemangat hingga mereka dapatkan haknya , bahkan lebih dari itu.

Adapun bila mereka mempunyai suatu kewajiban yang harus mereka penuhi, maka mereka melupakannya, jarang sekali mereka mengingatnya melainkan bila mereka dituntut atau dipaksa. Dan jika mereka memenuhi tuntutan tersebut, maka itu merupakan pelaksanaan yang penuh dengan kekurangan.

Sesungguhnya bentuk akhlak egois yang buruk ini sangat mengganggu kepada masyarakat Islam. Karena pribadi yang tidak tergerak kecuali oleh kepentingan dirinya sendiri, dan tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap kemaslahatan umat, adalah pribadi yang merugikan masyarakat, bangsa dan Negara.

Berapa banyak Negara dirugikan oleh tingkah laku para pegawai negeri yang hanya menghabiskan waktu membicarakan soal gaji dan kenaikan gaji, tanpa menaruh perhatian sepenuhnya kepada pekerjaan dan kewajibannya. Ia tidak mengetahui kecuali apa yang dianggap haknya, sedangkan yang berkaitan dengan tanggungjawabnya sebagai pegawai, ia tidak mengetahui sama sekali.”

(- Syeikh Muhammad Al Ghazali -)

“ Orang yang hanya mengisi kehidupannya dengan hura hura, senda gurau, dan mengejar kenikmatan duniawi mengira bahwa semua itu akan membahagiakan dirinya. Dia tidak menyadari bahwa suatu saat ia harus membayar semua kenikmatan semu yang dijalaninya itu dengan kesedihan, kegelisahan dan penderitaan yang berkepanjangan.

Allah SWT berfirman , ” Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al Balad 4). Itulah sifat dasar manusia, yaitu selalu merasa berada dalam kesempitan dan kekurangan. Oleh karena itu, setiap manusia harus selalu menyadari posisinya dan menata kehidupannya.”  ( – Aidh Al Qarny- )

“Kami tidak akan duduk di bangku cadangan ketika kalian beramal di jalan Allah; berdakwah, beramar maruf nahi munkar, menyuarakan kebenaran, dan berjihad fi sabilillah. Kami akan selalu bersama kalian, sesulit dan seberat apapun keadaannya…

Hari ini Islam menghendaki setiap muslim berujar kepada dirinya sendiri,” Apakah pantas aku beristirahat, sementara saudara saudaraku berpayah payah di jalan Allah? Apakah pantas  aku tidur nyenyak sementara saudara saudaraku disiksa di jalan Allah? Apakah pantas aku tinggalkan amal Islami sementara aku melihat kesulitan berat dan peperangan hebat melawan musuh sedang dihadapi oleh umat Islam?”

Islam  pun menghendaki seseorang yang mengucapkan kata kata seperti Abu Khaitsamah saat ia terlambat menyusul Rasulullah SAW ke medan Tabuk, ia berujar, ” Rasulullah dibakar terik matahari, angin badai, dan panas yang menyengat…Sementara aku , masih dibawah naungan sejuk, makanan yang tersaji, dan isteri yang cantik, menunggui hartanya…Sungguh ini tidak pantas.”  ( –Abdullah Azzam- )

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 25/12/2012, in Home, nasihat and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: