Kelebihan Bukan Kemuliaan, Kekurangan Bukan Kehinaan


Kemuliaan-Ilmu     Suatu hari disebuah sekolah, seorang Guru sedang mengajarkan sebuah pelajaran yang bertema tentang kemuliaan dihadapan Allah, tetapi pelajaran kali ini berbeda, yaitu Bapak guru tidak menjabarkan secara lisan tetapi Bapak guru menyuruh 2 orang anak Badrun dan Amir untuk percontohan praktek. Sesi itu begitu ringkas dan mengena.

Bapak Guru memulakan dengan sebuah simulasi. 2 orang murid yaitu Badrun dan Amir diberi sebuah buku setiap seorang. Badrun diberi buku yang tebal, sedangkan Amir diberi oleh Bapak Guru buku yg tipis. Lalu kata Bapak Guru kepada Badrun yang diberi buku tebal, “katakan kepada Bapak bagaimana perasaanmu saat bapak hadiahkan buku ini buatmu, apa perasaanmu?”, jawab Badrun, “Saya Senang dan gembira pak!” Kenapa Kamu senang tanya Bapak guru ke badrun,’ karna bukunya bagus, berwarna-warni, kertasnya putih dan pasti buku ini harganya mahal. Lalu Sang Guru beralih kepada Amir yang diberi buku tipis, “bagaimana denganmu?”,  Amir berkata, “Saya kurang gembira pak, ‘ Kenapa tanya Bapak Guru,; karna bukunya tipis, kertasnya, kertas buram, isinya hitam putih dan seperti buku murahan.” Oooo Begitu yaaa, kata Bapak guru, “ kemudian Bapak Guru memberikan arahan seterusnya, “Baiklah, sekarang kalian berdua baca buku yang telah bapak berikan pada kalian, rangkum semua hal yang penting dari buku tersebut dan bentangkan/presentasika pada pertemuan kita yang akan datang”. Dan ketika itu, Badrun yang berbuku tebal berkerut dahinya dan berkata haaaaaaaaaaaaa,,,,, aaappppaaaa, dan Amir yang berbuku tipis sekarang tersenyum gembira seraya berkata hoooreee,.,.,.

Sang Gurupun tersenyum.

‘Ibrahpun bermula.

Kita selalu gembira dengan kelebihan yang banyak dan bersedih dengan sedikitnya kelebihan. Kita lupa, bahawa setiap yang diberikan kepada kita pasti akan dipertanggungjawabkan. Semakin banyak kelebihan, semakin panjang perhitungan.

Kelebihan tidak semestinya bererti kita sedang dimuliakan oleh Allah. Ia juga boleh menjadi sebuah bentuk azab yang membawa kita jauh daripada-Nya seterusnya menyusur jalan ke neraka. Jika kelebihan merupakan kemuliaan, maka Fir’aunlah orang yang paling dimuliakan, kerana dia punya banyak kelebihan terutama dalam hal harta. Begitu juga Qarun, kelebihannya bahkan tak mampu ditandingi dalam membuat harta. Kekayaannya melimpah-limpah sehingga lekat istilah ‘harta Qarun’ sehingga sekarang. Sejarah melakarkan begitu banyak manusia yang punya kelebihan tertentu yang dianugerahkan oleh Allah, namun ternyata mereka tergolong daripada kalangan orang yang dihinakan oleh Allah.

Kekurangan pula tidak semestinya bererti kita sedang dihinakan. Ia boleh menjadi sebuah jalan penyucian hati yang membawa kita dekat kepada Allah, tetap dalam jalan ke syurga. Jika kekurangan merupakan kehinaan, maka para Nabi dan Rasul adalah antara orang yang dihinakan kerana kekurangan-kekurangan yang ada. Nabi Musa kurang daripada segi kelancaran berkata-kata. Nabi Ayyub ditimpa sakit yang perit. Kisah-kisah manusia yang hebat dan dimuliakan Allah tidak lari daripada kekurangan-kekurangan tertentu yang kelihatan di mata manusia biasa.

Memang ada yang diberi kelebihan dan dalam masa yang sama dimuliakan, begitu juga yang dihinakan dan dalam masa yang sama berada dalam serba kekurangan. Namun, kelebihan dan kekurangan janganlah dijadikan pengukur kepada posisi manusia di hadapan Allah. Hebatnya orang beriman, apabila diberi nikmat, dia bersyukur, apabila diberi ujian, dia sabar. Pujian dan penyucian terhadap Allah tidak lekang dalam apa juga keadaan.

Tabi’at manusia memang begitu. Melihat kelebihan sebagai sebuah bentuk kemuliaan, dan melihat kekurangan sebagai sebuah bentuk kehinaan. Sedangkan kedua-duanya adalah ujian yang Allah datangkan. Cara kita melaluinya yang akan menentukan taraf kita di sisi Allah. Demikianlah tabi’at manusia yang Allah sebutkan dalam Surah Al-Fajr, ayat 15-16:

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.”

Bersyukurlah atas kelebihan, bersabarlah atas kekurangan. Kehancuran itu adalah pada merasa tak puas dengan kelebihan yang dianugerahkan. Kebahagiaan itu adalah pada merasa cukup walaupun serba kekurangan

Dari Shuhaib Ar-Rumiy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bershabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim]

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 09/07/2013, in Cerita Hikmah, Home and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: