Semangat & Gairah Orang Yang Beriman


 semangat islam

Sumber Semangat Orang-orang Beriman: Iman, Cinta, dan Takwa Mereka kepada Allah

Semangat dan gairah orang-orang beriman sangat berbeda dari konsep yang banyak dianut masyarakat jahiliah, yang didasarkan pada kepentingan. Kecintaan orang-orang beriman kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya adalah penyebabnya. Mereka tidak merasa terikat dengan kehidupan dunia ini seperti para anggota masyarakat jahiliah, tetapi terikat dengan Allah, Yang Maha Pengasih, yang menciptakan mereka dari bukan apa-apa, dan memberi mereka berbagai sarana. Alasan yang terpenting ialah bahwa orang-orang beriman mengevaluasi peristiwa-peristiwa dengan kesadaran yang jernih. Mereka sadar bahwa Allah menjaga kehidupan seseorang setiap saat, bahwa Dia melindungi semua makhluk, dan bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya. Disebabkan oleh cinta mereka dan ketaatan mereka kepada Allah, mereka berusaha keras untuk memperoleh keridhaan-Nya sepanjang hidup mereka. Hasrat untuk memperoleh ridha Allah merupakan sumber terpenting semangat dan kegembiraan bagi orang-orang beriman. Cita-cita untuk memperoleh ridha Allah dan mencapai surga menjadi sumber energi dan semangat dalam diri orang-orang beriman.

Semangat Orang-orang Beriman Tidak Pernah Padam

“Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka demi membela agama Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.s. al-Hujurat: 15).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa semangat orang-orang beriman bersemayam dalam hati. Hal ini disebabkan karena perjuangan untuk mendukung nilai-nilai mereka berlangsung seumur hidup dan hanya ditopang dengan semangat yang bersumber pada keimanan. Kegigihan orang-orang beriman dalam usaha mereka yang terus menerus juga dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw: “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dilakukan dengan istiqamah.” (H.r. Bukhari).

Faktor lain yang membuat semangat orang-orang beriman tetap kuat dan segar adalah rasa penghargaan yang disertai dengan kerinduan dalam hati mereka, yang mereka alami sepanjang hidup:

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-A‘raf: 56).

Makna dari “Rasa takut dan harapan” ialah sebagai berikut: Orang beriman tidak pernah dapat yakin apakah Allah ridha dengan mereka, dan apakah mereka telah memperlihatkan perilaku moral yang baik, yang membuat mereka layak mendapatkan surga. Karena alasan ini mereka takut akan hukuman Allah dan terus-menerus berusaha untuk menyempurnakan moral. Sementara itu, mereka tahu bahwa melalui gairah dan ketulusan, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh ridha Allah, cinta-Nya dan rahmat-Nya. Mereka mengalami ketakutan dan harapan sekaligus; mereka bekerja keras tetapi tidak pernah merasa usaha mereka cukup dan tidak pernah menganggap diri mereka sempurna, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Mereka takut kepada Tuhannya dan takut dengan hisab (perhitungan amal) yang buruk.” (Q.s. ar-Ra‘d: 21).

Karena itu, mereka memeluk agama Allah dengan semangat besar dan melakukan usaha besar untuk kepentingan ini. Rasa takut kepada Allah menyebabkan mereka tidak lemah-hati atau lalai, dan perasaan ini mendukung semangatnya. Karena tahu bahwa Allah memberikan kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, sehingga mendorong mereka untuk terus beramal dan memperkuat komitmennya. Sebagaimana terlihat, konsep orang beriman tentang semangat sangat berbeda dari konsep masyarakat jahiliah. Dibandingkan dengan semangat kontemporer orang-orang kafir, semangat orang beriman merupakan luapan kegembiraan yang dipelihara oleh iman kepada Allah. Dia telah memberikan kepada orang-orang beriman kabar gembira tentang hasil dari semangat yang terus-menerus dalam al-Qur’an:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin, bahwa sesungguhnya mereka memperoleh karunia yang besar dari Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 47).

Mereka Lebih Dahulu Berbuat Kebaikan

Iman dan ketaatan seseorang kepada Allah tidaklah sama. Allah telah menyatakan bahwa dalam hal keimanan, orang-orang beriman itu memiliki tingkatan-tingkatan tertentu:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hambahamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya dirinya sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Q.s. Fathir: 32).

Apa yang memberikan kekuatan kepada mereka yang “lebih dahulu” ialah ketaatan mereka kepada Allah dan kerendahan hati mereka di hadapan-Nya. Keimanan mereka yang tulus memberi mereka semangat yang besar untuk berlomba-lomba dalam memperoleh ridha Allah. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa mereka yang berusaha dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka akan diberi derajat yang tinggi di sisi Allah:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad demi membela agama Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orangorang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nisa’: 95-6).

Mereka yang “pertengahan” adalah orang-orang yang lebih memilih jalan tengah daripada berusaha keras dengan hati dan jiwa mereka untuk memperoleh ridha Allah. Tak diragukan lagi, kondisi mereka di akhirat tidak akan sama dengan mereka yang lebih dahulu dalam beramal. Di samping itu, Allah telah menyebutkan kelompok ketiga di kalangan orang-orang Islam: mereka yang tertinggal dalam hal gairah mereka untuk beramal.

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).” (Q.s. an-Nisa’: 72).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat yang dikutip sebelumnya dari Surat Fathir, orang-orang semacam itu menganiaya diri mereka sendiri, dan keadaan mereka di akhirat akan mencerminkan perbedaan itu. Sementara mereka yang lebih dahulu dalam beramal akan memperoleh derajat tertinggi dalam pandangan Allah, tetapi mereka yang lalai akan melihat usaha mereka hilang kecuali jika mereka bertobat dan mengganti kelalaiannya. Dua ayat dari al-Qur’an dapat dikutip sebagai contoh tentang masing-masing keadaan:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad demi agama Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. at-Taubah: 20).

“Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan pahala amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 19).

JENIS-JENIS PERILAKU YANG MENUNJUKKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN

Keunggulan orang yang memiliki keimanan yang teguh di hatinya tampak dalam setiap waktu yang dihabiskannya, setiap sikapnya, dan setiap kata yang diucapkannya. Kegairahan iman ini melahirkan kesempurnaan dalam perilaku, sehingga orang-orang beriman lainnya yang memiliki gairah yang sama di hatinya segera mengenali semangat yang dihasilkan dari keimanan dan ketaatan kepada Allah. Orang-orang yang tidak beriman juga melihat semangat, komitmen dan kekuatan spiritual orang-orang beriman. Namun, mereka tidak pernah melihat sumber komitmen ini, karena mereka tidak mengakui agama yang sejati, atau tahu bagaimana cara bersandar hanya semata kepada Allah. Meskipun orang-orang yang tidak beriman tidak dapat menunjukkan sumbernya, mereka melihat jenis karakter pemberani dari orang-orang beriman yang tidak terlihat pada orang lain. Jenis-jenis perilaku yang menunjukkan gairah sangat penting bagi orang-orang beriman, karena mustahil untuk membuat keputusan tegas mengenai keunggulan agama lain dan kedekatannya dengan Allah. Hanya Allah yang tahu pasti mana orang yang memiliki iman yang dalam dan mana yang munafik, tetapi Dia telah memberikan petunjuk, yakni gairah dan semangat di dalam diri orang-orang beriman untuk memperoleh keridhaan Allah dan untuk hidup sesuai tuntunan agama-Nya. Dengan cara ini orang dapat dengan mudah mengidentifikasi mereka yang punya iman yang sesungguhnya, yang telah mengabdikan diri untuk Allah. Demikian pula, dia akan melihat kelemahan orang-orang yang tidak beriman, kelalaiannya sangat mencolok ketika dibandingkan dengan semangat orang-orang beriman, sebagaimana dia dapat melihat orang-orang yang kuat dan bisa diandalkan diantara orang-orang beriman. Orang-orang beriman dapat meraih kesempatan untuk memperkuat keimanan orang-orang yang memiliki semangat yang rendah.

Setia kepada Allah sampai Akhir Hayat

Sepanjang hidupnya orang menjumpai berbagai peluang yang mendatangkan keuntungan material atau psikologis bagi mereka. Ketika mereka memperoleh kesempatan seperti itu, sebagian besar orang meninggalkan apa pun yang mereka anggap penting sampai waktu itu, bahkan teman karib, dengan harapan untuk memperoleh keuntungan. Tujuan-tujuan yang dengan antusias mereka kukuhi tiba-tiba menjadi tidak bermakna bagi mereka — tujuan-tujuan yang mereka telah berjanji tidak akan melepaskan bagaimanapun keadaannya. Tidak adanya kesetiaan sejati adalah penyebab sikap tak konsisten ini. Satu-satunya orang yang hidup dengan kesetiaan sejati dalam pengertian yang sebenarnya adalah orangorang yang percaya kepada Allah dan berjanji akan tetap setia kepada-Nya. Mereka tahu tidak ada apa pun di muka bumi yang lebih berharga daripada memperoleh keridhaan Allah, karena mereka telah paham bahwa satu-satunya yang patut ditaati ialah Allah Yang Maha Besar. Komitmen orang-orang beriman dilukiskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (Q.s. al-Ahzab: 23).

 “(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (Q.s. ar-Ra‘d: 20).

Kesetiaan orang-orang beriman kepada Allah tampak dalam kesungguhan komitmen mereka pada Islam. Memang, tidak ada keuntungan duniawi, tidak ada kepentingan material atau lainnya dapat menggoda mereka untuk meninggalkan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Allah. Dan tidak ada yang lebih menarik hati mereka kecuali memperoleh ridha Allah. Kesetiaan mendorong mereka untuk terus

bekerja bagi agama dan melakukan perbuatan baik dengan gairah, sebagaimana ditegaskan Allah dalam al- Qur’an:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam’.” (Q.s. al-An‘am: 162).

Dan Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan memberikan balasan bagi orang yang bertakwa:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Ahzab: 24).

Melakukan Perbuatan yang Paling Diridhai Allah

Melalui ayat-ayat al-Qur’an, Allah menyampaikan kepada manusia jenis moral dan cara hidup yang diridhai-Nya. Hanya orang-orang beriman yang mau mematuhi perintah Allah dengan cara yang terbaik. Bahkan ketika mereka memiliki pengetahuan tentangnya, sebagian besar orang mengabaikan gaya hidup yang diridhai Allah karena mereka tidak punya tujuan untuk menyenangkan-Nya. Sebaliknya, orang-orang beriman berusaha untuk mematuhi setiap ayat dalam al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan tidak ada konsesi dalam masalah ini. Bahkan ketika mereka menghadapi situasi yang bertentangan dengan kecenderungan duniawi mereka, mereka tidak menampakkan sedikit pun ketakutan; sebaliknya, mereka memenuhi tugas-tugas sulit dengan gairah besar sepanjang hidup mereka. Yang menunjukkan gairah orang-orang beriman untuk mendapatkan ridha Allah ialah usaha mereka untuk menyenangkan Allah. Ketika seorang beriman menjumpai beberapa pilihan, dia memilih yang paling disukai Allah. Dia mendasarkan keputusannya pada kriteria yang ditetapkan al-Qur’an, Sunah dan kemudian hati nuraninya. Dalam al-Qur’an, Allah memberi tahu orang-orang beriman tentang cara hidup yang paling baik dalam pandangan-Nya dan menjelaskan kepada mereka perilaku yang paling menyenangkan- Nya. Karena itu sepanjang hidupnya, orang-orang beriman dibimbing oleh hati nurani yang senantiasa menyarankan tindakan terbaik dan paling benar. Diantara banyak pilihan, hati nurani mengarahkan manusia ke jalan yang benar yang didasarkan pada pengetahuan dari al-Qur’an. Berikut ini adalah contoh petunjuk Allah dalam masalah tersebut:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik.”

(Q.s. al-Isra’: 53).

Allah memerintah manusia untuk mengucapkan “perkataan yang lebih baik” kepada satu sama lain. Mengucapkan kata yang baik adalah suatu tindakan yang akan memperoleh ridha Allah. Namun, mengucapkan “perkataan yang lebih baik” adalah yang paling diridhai Allah dan menambah balasannya karena Allah memberi tahu kita bahwa itu merupakan amal yang paling baik. Demikian pula, Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa perbuatan jahat bisa dibalas dengan perbuatan yang setimpal dengannya. Namun, Allah juga menyuruh kita untuk melihat fakta bahwa memaafkan dan memperlihatkan sikap yang baik guna memperbaiki moralitas orang yang berbuat salah adalah lebih baik:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.s. asy-Syura: 40).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat itu, membalas kejahatan dengan kejahatan adalah tindakan yang sesuai dengan hukum Allah. Namun, memaafkan adalah tindakan yang lebih baik dan mendorong orang untuk memperoleh ridha Allah. Dalam suatu situasi di mana orang dapat melaksanakan haknya, berusaha untuk mengendalikan kemarahan dan memaafkan orang yang berbuat salah adalah pertanda kesempurnaan moral. Itu karena orang menolak untuk mematuhi keinginan nafsunya dan menampakkan kesabaran yang mulia demi memperoleh ridha Allah. Ayat berikut ini menyatakan:

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.s. asy-Syura: 43).

Perbedaan dengan orang-orang yang memiliki gairah kuat terlihat dari sikap mereka yang selalu memilih yang terbaik. Apa pun keadaannya, mereka memperlihatkan tekad untuk melakukan yang paling disenangi Allah. Sebagai balasannya Allah memberi mereka kabar baik bahwa Dia akan menunjukkan mereka kepada keselamatan:

“Dengan Kitab itulah Allah menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. al-Ma’idah: 16).

Mengutamakan Kepentingan Agama daripada Kepentingan Mereka Sendiri

Seperti disebutkan sebelumnya, sebagian besar orang dalam masyarakat jahiliah berusaha untuk memperoleh keuntungan dari masyarakat tempat mereka tinggal melalui hubungan personal, dan bahkan dari teman-teman karibnya. Jika terjadi konflik kepentingan, mereka tidak pernah ragu untuk mendahulukan kepentingan mereka sendiri dan, dalam sekejap mata, dapat dengan mudah mengorbankan orang lain bahkan kawannya sendiri. Itu karena mereka mengutamakan diri mereka ketimbang apa pun dan siapa pun. Namun, situasinya berbeda bagi orang-orang beriman. Mereka tidak menetapkan tujuan-tujuan individual dan dengan demikian tidak berkonsentrasi hanya pada kepentingan pribadi tetapi mempertimbangkan kepentingan orang beriman lain dan Islam. Memang, ketika kepentingan orang beriman dan Islam dipenuhi, kepentingan mereka sendiri akan terpenuhi. Mereka tidak dikuasai oleh kepentingan duniawi, tetapi yang terpenting bagi mereka dalam hidup ini ialah untuk memperoleh perilaku yang paling menyenangkan Allah, karena itulah yang akan berguna bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Mereka yang memiliki jenis mentalitas ini selalu bekerja untuk kepentingan Islam dengan penuh gairah. Pada titik ini perlu dijelaskan apa itu “kepentingan” Islam. Allah mewahyukan agama-Nya kepada semua orang sebagai petunjuk di atas jalan lurus. Menyampaikan kepada orang keyakinan dan amal agama dan kebahagiaan yang muncul dari moralitasnya ditambah dengan semua keuntungan spiritual dan materialnya merupakan kewajiban semua orang beriman. Mereka memenuhi kewajiban ini dengan memberi contoh bagaimana hidup dengan prinsip-prinsip al-Qur’an dan dengan menyampaikan kepada manusia melalui kata atau menyebarkan publikasi yang relevan.

Orang beriman menganggap mengajak satu orang kepada keselamatan abadi merupakan bentuk ibadah yang penting. Ini merupakan aspek utama dari “kepentingan” Islam. Dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan pencapaian perdamaian sosial dan  individual dan pencegahan imoralitas, kesengsaraan dan ketidakadilan, orang-orang beriman mengesampingkan

kepentingan mereka sendiri. Pendekatan ini diambil dari sabda Nabi Muhammad saw: “Engkau tidak akan benar-benar beriman sampai hawa nafsunya disandarkan kepada agama yang aku bawa.” (An-Nawawi, Hadis No. 41).

Dalam situasi-situasi seperti itu orang beriman mungkin mencela hak mereka sendiri. Ketika mereka harus mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kesalahan konsepsi; mereka mungkin mendefinisikan sikap orang beriman ini sebagai “ketololan”. Ada sebagian orang yang berpikir sesuai dengan kondisi masyarakat dan akan berkata, “Apakah anda orang yang akan menyelamatkan dunia?” Namun, berbeda dari yang mereka bayangkan, orang beriman tidak mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan akhirat; mereka mengharapkan balasan pengorbanannya dari Tuhan. Karena alasan ini mereka rela berkorban untuk Islam, menyampaikan pesan moral yang baik dan mengajak orang kepada keselamatan abadi. Allah memberikan kabar baik bahwa sebagai balasan bagi tekad kuat mereka Dia akan memberi mereka balasan yang lebih baik dan lebih tinggi. Akibatnya, seseorang yang mengesampingkan kepentingan pribadi dan memenuhi kepentingan agama sebenarnya memperoleh manfaat yang paling baik, baik di dunia maupun di akhirat. Itu karena melalui usaha sungguh-sungguh dia memperoleh keridhaan Allah dan kehidupan yang baik di dunia ini. Mengenai ini Allah berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

Kita dapat melihat perilaku orang beriman dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, orang beriman tidak ragu untuk mengesampingkan bisnis yang menguntungkannya, agar dia dapat terlibat dalam tugas lain tanpa imbalan keduniaan jika dia percaya hal itu akan lebih menyenangkan Allah. Demikian pula, dia akan mudah mengeluarkan uangnya yang telah dia simpan guna membiayai proyek amal yang dirancang untuk menyampaikan pesan-pesan moral al-Qur’an kepada umat manusia. Sebagaimana tampak dalam contoh,

seorang beriman yang gigih segera mengesampingkan kepentingan pribadinya dan mengabdikan diri untuk kepentingan agama tanpa ragu. Kesadaran seseorang untuk mengabaikan hak-haknya dalam situasi tertentu berkaitan dengan kesadarannya, bahwa apa yang dia lakukan merupakan sesuatu yang besar imbalannya dan bukan suatu kerugian. Dia mungkin mengabaikan kontrak yang menguntungkan, dan bahkan, menimbulkan kerugian material yang banyak; tetapi, dia akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih tinggi dari itu: keridhaan Allah. Di samping itu, orang beriman tahu bahwa yang memberi dan menahan sesuatu adalah Allah. Yang memberi makanan, kekayaan, dan meningkatkan penghasilannya adalah Allah; karena itu, tak ada gunanya bersikap rakus atau cemas tentang akibatnya. Allah menyatakan bahwa sebagai imbalan bagi moral mereka yang baik dan usaha yang sungguh-sungguh, orang beriman akan memperoleh tambahan pahala:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Q.s. Yunus: 26).

Lebih mengutamakan kepentingan Islam daripada kepentingan pribadi tidak terbatas pada masalah materi. Mungkin ada kepentingan untuk mengorbankan tubuh juga. Sebagai contoh, bantuan mungkin diperlukan ketika orang merasa letih, lapar atau kurang sehat. Pada waktu-waktu seperti itu, orang beriman terus memberikan bantuan tanpa menunda-nunda. Itu karena mereka menganggap pengorbanan materi atau fisik bukan merupakan suatu kesulitan melainkan kesempatan yang diciptakan oleh Allah. Ini adalah kesempatan-kesempatan yang dekat yang ditunggu oleh orang-orang beriman, yang sangat merindukan kedekatan dengan Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Karena alasan ini, tanpa merasa sedih, mereka berpaling kepada tugas yang paling menguntungkan. Tak diragukan lagi, gairah dan tekad yang mereka tunjukkan merupakan indikasi dari iman dan keikhlasan.

 Dikutip dari BUKU  : “Semangat & Gairah”

Karya : HARUN YAHYA

Kutipan Buku Halaman 10 – 16

About qolbussalam

perjuangan adalah seni kehidupan

Posted on 25/09/2013, in Dakwah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: